Jumat, 12 Oktober 2012

MENGAPA ADA PENDERITAAN

 



Menguak masalah penderitaan manusia dan teodisea


Oleh R Edy Ambar

A.   PENDAHULUAN

      Jika kita amati bersama akhir-akhir ini Indonesia banyak diterpa dengan berbagai macam bencana. Dari bencana gempa bumi Yogya, Tsunami di Pangandaran , meluapnya Lumpur panas LAPINDO di Sidoarjo dan masih banyak bencana lain atau kejahatan yang selalu kita amati lewat tayangan berita kriminal di televisi. Begitu menyayat hati jika kita melihat korban yang berjatuhan adalah anak-anak kecil, orang tua dan orang-orang yang tidak bersalah. Apakah ini hukuman Tuhan ? Apakah selama ini kita berpikiran bahwa segala penderitaan di dunia ini merupakan hukuman Tuhan ?  Bagaimana dengan bayi-bayi kecil yang tak berdosa yang menjadi korban bencana gempa di Yogya?.  Bagaimana dengan orang orang yang menjadi korban bencana saat menjalankan ibadat atau mengikuti misa? Kita masuk pada permasalahan yang pelik. Mana bukti bahwa Tuhan maha kasih dan maha cinta dengan membiarkan umatnya mengalami penderitaan? Seorang filosof Yunani Epikuros sekitar 300 tahun sebelum Kristus, merumuskan problem pertentangan antara kejahatan dan kebaikan, penderitaan dan kebahagiaan sebagai berikut:

“ Atau Allah ingin menghapus penderitaan tetapi tidak sanggup, atau ia tidak sanggup tetapi tidak mau, atau ia tidak mau dan tidak sanggup atau ia mau dan sanggup juga. Kalau Ia mau tetapi tidak sanggup , maka Ia lemah, ini tidak sesuai dengan hakekat Allah. Kalau Ia sanggup tetapi tidak mau maka Ia bersifat jahat yang juga tidak cocok dengan hakekat Allah. Kalau Ia tidak mau dan tidak sanggup , Ia bersifat jahat dan lemah, karena itu Ia bukan Allah. Kalau Ia mau dan sanggup juga – satusatunya yang sesuai dengan Allah- maka dari manakah penderitaan? Mengapa Allah membiarkan umatnya menderita? “

     

Thomas Aquinas merumuskan persoalan itu sebagai satu soal menyangkut kebaikan Allah yang tak terbatas. “Jika satu dari dua hal yang bertentangan bersifat tak terbatas, dengan sendirinya yang lain tidak mungkin ada. Tetapi Allah dimengerti sebagai kebaikan yang tak terbatas. Maka andaikan Allah ada tidak mungkin penderitaan ada. Tetapi ternyata penderitaan ada maka Allah tidak ada.” Maka menurut logika , penderitaan membuktikan bahwa Allah tidak ada.  

Senada dengan itu Dokter Morgentaler mengatakan bahwa Jika Allah itu ada dan Dia betul betul Mahakuasa dan Mahabaik, Dia tidak akan pernah membiarkan datangnya penderitaan dan kejahatan bertubi-tubi. Secara jelas hal ini meringkaskan apa yang umum dinamakan “ keberatan adanya Allah karena penderitaan. ” Dalam  adanya kejahatan dan penderitaan orang orang yang tidak berdosalah terdapat dasar permanen dari ateisme. Seorang ahli psikologi agama membuat suatu penyelidikan yang menghasilkan bahwa adanya kejahatan dan penderitaan merupakan sebab utama keragu-raguan iman dan pemberontakan melawan Allah.   

Menghadapi permasalahan ini banyak ahli mencoba memberi solusi untuk memberi penerangan.  Dalam tulisan ini kita akan menyimak pembahasan secara lengkap hal tersebut sekaligus melihatnya dalam terang iman Kristiani.


B.   SANGGAHAN LEIBNIZ  ATAS PENJELASAN YANG TIDAK MEMADAI

1.    Penderitaan adalah hukuman Allah atas dosa-dosa yang dilakukan
Penderitaan sebagai hukuman tidak memperhatikan bahwa ada juga misalnya anak kecil yang tidak melakukan suatu kesalahan yang pantas dihukum tertimpa penderitaan. Apakah pantas diandaikan Allah menghukum demikian kejam?
2.    Penderitaan akan diimbangi dengan kebahagiaan di surga
Apakah Allah yang Mahabaik harus menuntut pembayaran begitu kejam dari orang yang akan masuk surga? Mengapa surga harus dibayar? Kita manusia saja kadang-kadang bersedia menawarkan sesuatu yang bik kepada orang lain tanpa memnuntut sebuah prestasi khusus. Apakah Tuhan yang begitu mencintai kita harus menyiksa kita sebelum kita masuk surga.
3.    Melalui penderitaan Allah mencobai mutu manusia ; hanya manusia yang bertahan dalam penderitaan pantas menerima kebahagiaan abadi di surga
Ada juga orang yang menjadi pahit karena penderitaan yang melampaui kekuatannya. Belum tentu penderitaan selalu mencapai suatu efek positif.  Ada penderitan yang sedemikian besar sehingga orang kelihatan hancur dan seakan tergilas lalu orang itu mau mambuktikan yang bagaimana?
4.    Penderitaan memurnikan hati
Penderitaan di luar batas bisa meremukkan orang. Apa yang masih tinggal untuk dimurnikan?
5.    Dunia yang ada penderitaannya lebih baik daripada yang tidak ada penderitaannya
Ini pendapat berbahaya karena ini bisa diartikan bahwa mesti ada orang-orang yang harus menderita agar keseluruhan lebih baik.
6.    Manusia tidak seimbang dengan Allah karena itu ia tinggal   menerima saja segala apa yang terjadi sebagai kehendak Allah dengan tak perlu bertanya apalagi protes.
Apakah wajar melarang orang untuk berprotes yang merasa diperlakukan tidak adil? Kalau Allah sama sekali lain apa gunanya kita mengatakan bahwa Allah itu maha kuasa, adil dan baik?
 

C.   PENDERITAAN DALAM REFLEKSI FILSAFAT

Ada banyak refleksi tentang penderitaan di dunia ini, baik penderitaan yang dihasilkan oleh dinamisnya alam semesta ini dan juga oleh kerumitan manusia itu sendiri. Teks paling kuno yang akan diuraikan nanti adalah Kitab Ayub. Karya klasik ini menganalisis reaksi hati manusia dalam seluruh kompleksitasnya jika dikonfrontasikan dengan suatu bentuk penderitaan yang tidak dapat diterima karena tampak kurang adil dan menimbulkan suara hati manusia rasa berontak atas nama tuntutan moralnya sendiri. Selain itu kita juga akan membongkar masalah penderitaan ini dari tulisan Wilcox, Louis leahy SJ, dan Georg Kirchberger dan beberapa ahli lain. Semua tulisan ini akan diakhiri sebuah refleksi penderitaan dalam terang iman Kristiani. Saya berharap dengan rangkuman ini kita bisa terbuka wawasan kita, dan dikuatkan iman kita saat kita mengalami penderitaan apapun dalam dunia ini yang penuh dinamika kehidupan.

1.    Pendapat Teilhard de Cardin
Dia adalah wakil dari paham evolusionis mengatakan:
Allah sama sekali tidak menciptakan atau menghendaki adanya penderitaan di dunia ini dan penderitaan muncul sebagai akibat dunia yang tumbuh dan berkembang secara evolutif semata-mata. Adanya penderitaan yang tanpa tujuan terjadi begitu saja dengan alasan yang tidak jelas seperti gunung meletus, gempa bumi, kekeringan ,kelaparan berkepanjangan, pembunuhan keji dan sebagainya merupakan bentuk-bentuk kegagalan yang tak dapat terelakkan dalam proses evolusi. Dunia tumbuh dan berkembang dari situasi yang relatif tidak sempurna menuju kepada yang lebih sempurnadan penderitaan terjadi menyertai proses ini. 

2.    Pendapat Alfred N Whitehead
Beliau melalui filsafat prosesnya mengatakan bahwa penderitaan muncul sebagai hal yang tak terelakkan dalam rangkaian proses petualangan kreatif seluruh alam semesta yang senantiasa dalam proses “menjadi” Paham evoluisionis dan filsafat proses dalam dua pendapat di atas tidak melihat bahwa Allah yang bertanggung jawab atau bersalah secara moral, namun penderitaan dilihat sebagai konsekuensi dunia yang tumbuh dan berkembang secara berangsur angsur. Dengan begitu Allah tidak mungkin melenyapkan segala penderitaan di dunia ini meskipun Dia Mahabaik dan Mahakuasa. Jikalau Allah berbuat demikian maka Allah sendirilah yang menghancurkan keseluruhan proses tumbuh dan berkembangnya dunia ini. Kemahakuasaan Allah tidak terletak pada kemampuan – Nya menghilangkan penderitaan tetapi pada kasih-Nya untuk menyertai manusia agar kuat menanggung penderitaan.

3.    Kejahatan  >< kebaikan, Penderitaan  >< Kebahagiaan

Secara onthologis dapat kita ketahui bahwa kebaikan dan kejahatan tidak berada dalam keaadaan setara. Kebaikan dapat hadir mandiri sedangkan kejahatan tidak mungkin ada tanpa kebaikan. Dengan kata lain, kita akan tahu bahwa hal itu jahat atau tidak baik bila kita terlebih dahulu mengetahui kebaikannya. Bukankah dengan mengungkapkan penderitaan, kejahatan, dan ketidakadilan tercipta jalan dan harapan untuk mengetahuiapa sesungguhnya kebahagiaan  kebaikan dan keadilan itu sendiri? Pararel  dengan ini kita dapat mengajukan keberatan terhadap kaum atheis , “ penderitaan ada maka Allah tidak ada” seraya membalikkannya “ kebaikan ada maka Allah ada”
Prof Dr  Louis Leahy mengatakan : “ Saya tidak setuju dengan pendapat ini yang tetap populer terutama bagi mereka yang pikirannya terfokus pada segi-segi negatif hidup ini  , sehingga mereka lupa untuk melihat semua keindahan dan keagungan yang bersinar dari alam semesta.”

4.    Refleksi Kitab Ayub atas tulisan Wilcox
Di sinilah termasuk pentingnya Kitab Ayub yang termasyur karena merupakan suatu rumusan yang kaya sekali tentang masalah penderitaan dan kejahatan. Karya klasik ini menganalisis reaksi hati manusia dalam seluruh kompleksitasnya jika dikonfrontasikan dengan suatu bentuk penderitaan yang tidak dapat diterima karena tampak kurang adil dan menimbulkan dalam suara hati manusia rasa berontak atas nama tuntutan moralnya sendiri. Sehingga Allah sampai dituduh dan dikutuk oleh Ayub.  Ayub adalah seorang yang benar, jujur takut akan Allah dan menjauhi segala hal kejahatan. Kemudian setan datang menghampiri Allah serta menantangnya demikian “ Barangkali saja ada orang hidupnya seperti Ayub bahkan lebih daripada  dirinya, tetapi tetaplah tidak berkenan di hadapan Allah. Akhirnya setan dengan persetujuan Allah bersedia mencobai diri Ayub.  Ia mengatakan ’ dengan cara dicobai pastilah Ayub akan mulai mengutuk Allah .” Tuhan menyetujuinya.  Maka pada awal mulanya seluruh harta yang dimiliki Ayub musna, disusul kematian anaknya dan terakhir kesehatannya dengan mengidap borok. Baru kemudian teman-temannya datang turut berbelasungkawa atas nasib yang menimpa Ayub. Pada awalnya kehadiran mereka untuk menghibur tetapi selanjutnya justru membuat Ayub bertambah sedih. Menurut teman-temannya dia harus sabar menanggung penderitaan yang disebabkan dosa Ayub sendiri. Ayub tidak bisa menerima hal ini dia merasa sama sekali tidak bersalah.
Latar belakang teologis yang diyakini Ayub adalah sebuah doktin ortodoks ” orang benar mendapat pahala dan orang jahat akan mendapat petaka.”  menurut Wilcox, Ayub mengalami kepahitan moral. Semestinya orang seperti Ayub memperoleh ganjaran bukan penderitaan atau hukuman.  Namun dalam kenyataannya banyak orang benar seperti dirinya mengalami penderitaan.  Akhirnya Ayub mulai mengutuk dan menghojat Allah. Ayub berkesimpulan Allah tidak adil terhadap dirinya.  Dalam terminologi teologis dikatakan ” Tuhan membuat orang benar menjadi orang berdosa yaitu dengan menyodorkan padanya suatu penderitaan.  Kutukan dan hujatan yang disampaikan Ayub seolah-olah Ayub lebih benar dan lebih adil dari pada Tuhan. Di sinilah letak dosa Ayub sebagai ciptaan berani menyalahkan Sang penciptanya. Tidak mengherankan E.Blonch menjuluki Ayub sebagai prometeus.
Kemudian Ayub menantang Tuhan untuk berbicara mengenai penderitaan dirinya. Akhirnya Tuhan memenuhi tantangan tersebut. Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berbicara kepadanya. Inilah yang disebut teofani.  Dalam bagian teofani  Allah menjawab Ayub. Tuhan menelanjangi sgala ketidaktahuan Ayub akan misteri-misteri Tuhan yang amat dalam dan luas termasuk penyelenggaraan Ilahi-Nya.  Ternyata perkiraannya selama ini dapat mengetahui segala hal tentang misteri penyelenggaraan ilahi,sekaligus merasa lebih tahu bagaimana Tuhan mesti bertindak terhadap manusia dan alam semesta membawanya pada suatu kebuntuan. Tuhan mengatakan bahwa penderitaan manusia khususnya mereka yang tak berdosa atau tak bersalah tidaklah dapat dimengerti oleh manusia. Masalah ini melampaui kemampuan manusia untuk dapat dimengerti. Manusia hanya bisa mendekati keseluruhan dari misteri Allah. Manusia tidak akan pernah bisa mengetahui hal tersebut secara eksak dan menyeluruh.
Menurut Wilcox tindakan Ayub mengutuk Tuhan didasarkan atas prinsip moral tertentu. Doktrin ortodoks mengajarkan adanya suatu paham balas jasa kemudian dari situ diterapkan kepada Allah. Tuhan dikatakan memiliki kewajiban moral seperti manusia, menolong orang yang lemah, mengganjar orang yang baik, menghukum orang yang jahat.   Doktrin ortodoks juga mengajarkan bahwa sebaaimana manusia memilki moral yang baik otomatis Allah yang baik mesti pula menghukum yang jahat dan membalas atau mengganjar yang baik dan melindungi yang lemah. Dalam Kitab Ayub dikatakan Ayub sebagai orang yang benar ,jujur dan takut akan Allah. Sehingga posisi Ayub terletak pada doktrin ortodoks ini. Asumsi Ayub dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Jika Tuhan baik ia pasti menyingkirkan penderitaan dari orang benar.
2.    Tetapi kenyataannya orang benar(Ayub) juga menderita (orang jahat sejahtera orang benar menderita)
3.    Tuhan tidak adil membuat orang benar menjadi berdosa.
4.    karena Ayub benar dan adil maka tuhan tidak lebih dari Ayub
5.    Ayub akhirnya menghujat Allah. Bisa juga orang dalam pemikiran seperti ini akan masuk dalam paham atheis.

Posisi  semacam  ini  mewakili  kaum  atheis  yang   menolak adanya Tuhan oleh sebab adanya penderitaan. Theisme dipandang inkonsisten atas adanya penderitaan, lebih-lebih penderitaan orang-orang yang tidak berdosa.

5.    Pendapat Prof.Dr Louis Leahy
Prof. Dr Louis Leahy S.J.  mengajukan beberapa pendapat sebagai sanggahan terhadap kaum atheis sebagai berikut ;
1.     Apakah dapat dibenarkan secara epistemologis bahwa orang atas nama prinsip moral tertentu mengutuk Tuhan atas adanya penderitaan? Fakta penderitaan di dunia ini bahkan yang paling buruk sekalipun tidaklah dapat membuat seseorang secara sah mengutuk Tuhan.
2.     Perlu dipertanyakan apakah prinsip moral yang digunakan dalam menilai realitas termasuk Allah di dalam dirinya sendiri sudah benar. Dalam doktrin ortodoks yang dianut Ayub melihat realitas hidup hanya dari segi ganjaran hukuman saja. Doktrin ortodoks akan melihat realitas dari kacamata moral. Hidup sendiri lebih luas daripada sekedar masalah moral. Moralitas hanya merupakan bagian kecil dari unsur hidup manusia. Ini sesuatu yang salah secara prinsipiil. Hidup bukan sekedar ganjaran –hukuman sehingga doktrin ini tidak sah di dalam dirinya sendiri.
3.     Jika kita melihat struktur argumen orang atas nama prinsip moral tertentu menolak Allah mereka selalu berangkat dari keyakinan absolut akan prinsip moral tertentu.  Padahal manusia dengan segala moralitasnya tidaklah bersifat mutlak kemutlakan hanya bisa dicari di luar diri manusia yang terbatas. Begitu pula kemutlakan mengandaikan suatu nilai transenden yang bisa menuntut sedemikian mutlaknya sehingga manusia tunduk padanya. Sesuatu yang diluar dirinya adalah suatu ”Zat” yang bisa memberi fondasi yang mutlak bagi manusia untuk menilai secara moral. Itulah Tuhan dalam paham orang beriman. Jadi menolak atau mengutuk Tuhan demi memusnahkan suatu penderitaan amatlah merugikan diri manusia itu sendiri.  
4.     Keburukan adalah kebaikan yang tidak tercapai. Pada makhluk perasa kekurangan ini diterjemahkan dalam kemampuan untuk menderita. Semakin berkembang perasaan dan kesadaran dalam makhluk-makhluk hidup itu semaik besar pula kemampuannya menderita. [Leahy 1993,273]. 
      
6.    Pendapat Dr. Frans Magnis Suseno, SJ
Kemungkinan menderita termasuk kodrat manusia. Allah tidak dapat menciptakan alam dan manusia tanpa membuka kemungkinan terjadinya keburukan, kejahatan dan dosa, hal itu tidak berarti Allah tidak mahakuasa. Allah tidak dapat membuat hal-hal yang pada dirinya bertentangan pada dirinya sendiri. Allah tidak bisa menciptakan sesuatu yang bertentangan dengan dirinya sendiri tidak mengurangi kemahakuasaan-Nya, melainkan sebaliknya berakar dalam konsistensi Allah dalam kemengadaan-Nya. Tetapi apakah Allah yang baik tiidak dapat mencegah kemungkinan untuk menderita? Jika Allah setiap kali campur tangan, begitu ada anak kecil yang tangannya mau kecipratan air mendidih, berarti Ia tidak membiarkan alam berjalan menurut kodrat dan kekuatannya yang hakiki, yang menunjukkan keagungan penciptaan. Begitu Allah memutuskan untuk menciptakan alam dengan seluruh isinya tidak mungkin segala luka, kekerasan dan perasaan sakit dihindari.     


     
7.    Pendapat Hegel
Tanpa negativitas segi-segi positif eksistensi tidak dapat memperoleh bobot yang sebenarnya. Kalau setiap puncak tinggi di bumi dapat dicapai dengan lift maka kepuasan mendalam yang diperoleh jika kita mencpainya melalui pendakian berat dan berbahaya tentu tidak bisa tercapai. 

8.    Pendapat Weissmahr
Dengan menciptakan dunia seperti ini dengan segala segi positifnya, Tuhan memang seakan-akan mengikat diri sendiri untuk membiarkan penderitaan berlangsung. Penderitaaan adalah biaya pelaksanaan sebuah nilai lebih luas. Tanpa penderitaan perkembangan makhluk menurut kodratnya tidak akan mungkin. Tanpa penderitaan, kehidupan manusia tidak berbobot. Tanpa penderitaan tidak ada itu tanggungjawab, tidak ada pengurbanan, tidak ada kesetiaan, tidak ada solidaritas.   

Dari refleksi filsafat di atas terasa masih belum bisa menjawab secara tuntas , yaitu kenyataan penderitaan di dunia begitu melimpah. Apabila orang memang percaya bahwa setiap orang secara individual diperhatikan dan disayangi Allah –”Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya , sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya ? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” [Yes 49:15] – semua alasan yang masuk akal tadi rasanya tidak memadai.

D.   FILSAFAT MENCARI JALAN LAIN

Penjelasan yang diberikan oleh filsafat akhirnya gagal, hal ini karena filsafat tidak dapat menjelaskan ukuran dan jumlah penderitaan yang begitu raksasa. Kalau kita masih ingin mau mengerti maka kita bisa mengambil jalan lain selain hanya terfokus pada penderitaan, kejahatan dan keburukan.
Seorang filosof dan Teolog Roma Boethius(480-524) dapat membantu kita. Pertanyaan Boethius :”Si quidem deus est, unde mala ? Bona vero unde , si non est” (Bila ada Allah dari mana hal-hal buruk? Tetapi dari mana hal-hal baik kalau Ia tidak ada).  Atas pertanyaan pertama “Bila ada Allah dari mana hal-hal buruk?” hanya ada satu jawaban : ”saya tidak tahu.”  Malah sebaliknya filsafat harus menelanjangi sifat tidak senonoh  penjelasan-penjelasan tadi. Bagi orang yang tidak percaya pada Allah dengan demikian masalah penderitaan selesai. Tak ada Allah tak ada jawaban. Namun bagi orang yang percaya pada Tuhan tetap mengharapkan jawaban. Andaikata tidak ada Allah maka protes Ayub kehilangan segala arti dan menjadi tidak lebih dari sebuah ilusi kekanak-kanakan belaka. Ayub berprotes berarti dia masih tetap percaya Allah ada. Kalau tak ada Allah dari mana kebaikan? Tanpa Allah semuanya absurd. Kalau tidak ada kebaikan berarti tidak ada Allah. Kebaikan di sini harus berakhir dengan kebahagiaan. Menurut Kant: ’Kesediaan manusia untuk bersikap moral hanya masuk akal atas dasar harapan akan kebahagiaan di akhirat. Kebaikan hanya bisa baik utuh apabila ada kekuatan yang menguasai segala-galanya yang penuh kasih, yang menjamin bahwa segala-galanya akan menjadi baik. Kebaikan sekecil apapun hanya mungkin karena ada Allah.
Dengan demikian tetap berlaku bahwa kita tidak melihat mengapa Allah mengizinkan penderitaan. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh filsafat sama sekali. Jadi masalah teodisea tidak terpecahkan oleh filsafat. Yang dilakukan filsafat adalah mengantar orang ke ambang iman.      

E.    PENDERITAAN DALAM TERANG IMAN KRISTIANI

Setelah kita sejenak melihat refleksi filsafat tentang penderitaan maka kita masih belum puas dengan jawaban tersebut, dan memang ternyata filsafat tidak dapat menjawab dengan memuaskan masalah ini. Sebagai seoarang beriman saya sendiri kerap kali merenungkan setiap kali ada bencana alam yang terjadi di tanah air kita, kecelakaan transportasi yang bertubi-tubi, lumpur Lapindo Sidoarjo yang tak kunjung henti memuntahkan lumpur, korban tsunami Aceh yang sekarang masih di pengungsian, penderitaan yang dialami saudara-saudara di Yogya pasca gempa. Begitu mengguncangkan hati kita sebagai umat beriman ”Apa maksud Tuhan dengan semuanya ini? Mereka kehilangan sanak saudaranya, anaknya, orang tuanya suami, istri yang mereka kasihi. Akan sangat sukar bagi mereka untuk melupakannya. Lalu bagaimana juga dengan saudara-saudara kita saat gempa di Yogya, dimana mereka sedang merayakan ekaristi di gereja Hati Kudus Ganjuran , bagimana para bayi-bayi yang belum mengenal dosa tetapi harus ditimpa bencana. Banyak ternyata orang benar dan tak bersalah mengalami penderitaan di dunia ini. Sebuah misteri yang tak terjawab secara filosofis. Dalam pembahasan berikut anda saya ajak merenungkan penderitaan manusia dalam terang iman Kristiani.
Sebagai orang beriman saya menyadari bahwa derita dan penderitaan, sengsara dan kesengsaraan, keterasingan dan kehampaan hidup bukan hanya dialami oleh mereka yang ditimpa bencana bertubi tubi di Indonesia ini, ditempat lain masih banyak seperti di Afganistan, Libanon, Ethiopia, dan belpagai penjuru dunia yang tidk bisa disebutkan satu-persatu. Penderitaan sudah ada sejak manusia berdiam di planet bumi ini. Kekerasan, kekejian peperangan yang mengakibatkan derita seiring perjalanan hidup manusia. Jika kita ingat kisah-kisah kehidupan dalam perjanjian lama, umat Israel ditindas Firaun di Mesir walaupun berkat Musa mereka keluar dari Mesir menuju Tanah terjanji. Dalam perjalanan ke tanah terjanji ini suku-suku israel berperang melawan suku-suku Israel lain, bahkan diantara suku-suku Israel itu sendiri. Para nabi yang diutus Tuhan untuk mempertobatkan bangsa Israelpun mengalami derita, dikejar-kejar dan dibunuh.
Menjelang Perjanjian Baru , Yohanes Pembaptis yang diutus Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus juga dipenggal kepalanya oleh Herodes. Keluarga Herodes merasa bangga dapat memenggal kepala Yohanes yang tidak bersalah. Sama sekali mereka tidak memilki rasa perikemanusiaan apalagi rasa bersalah.  Ketika Yesus lahir di Betlehem Herodespun menghabisi bayi-bayi tak berdosa.
Perjalanan Hidup Yesuspun dilalui dengan penuh onak duri, tantangan , godaan, cobaan, penolakan. Sebagai orang baik Yesus sendiri telah mengalami pahit getirnya kehidupan. Sampai akhirnya Yesus ditangkap, dicemooh, dikianati, disiksa dan disalibkan, ditombaki bagaikan penjahat besar. Yesus sudah mengalami penderitaan yang maha berat selama hidup-Nya. Namun Yesus tidak pernah mengeluh, menangis atau minta dikasihani. Dengan sabar dan tabah   dia menanggung semuanya.       
Kekejaman, kekelaman, kekerasan tidak hanya berakhir pada penyaliban Yesus di Kalvari. Para murid Yesuspun mengalami nasib serupa dengan Sang Guru. Dalam perjalanan panjang Gereja dari masa ke masa  banyak mereka dikejar-kejar, mengalami kekejaman, kekerasan bahkan kematian atas kesaksian iman mereka. Gereja kita juga pernah trlibat dalam peperangan dan kekejaman yang kita kenal dengan perang salib,padahal Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Dari pengalaman ini dapat dikatakan bahwa di satu sisi Gereja mengajarkan cinta kasih tetapi di sisi lain Gereja turut menciptakan kekerasan dan kekejaman atas nama agama. Padahal manusia lebih berharga dari pada agama. Tuhan tidak pernah menciptakan agama tetapi menciptakan manusia. Manusia itu ciptaan Tuhan sedangkan agam itu ciptaan manusia untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Manusia entah hidup jaman apapun tetntu pernah mengalami derita. Mengapa penderitaan dibenarkan Tuhan Yesus, bahkan Dia sendiri mengalaminya.
Saya mengajak Anda untuk melihat hidup dan dunia ini. Sejenak kita berdiam diri dan melihat tubuh kita. Ada tangan kiri dan juga tangan kanan, ada mata kiri ada juga mata kanan, ada telinga kiri ada telinga kanan, ada tubuh bagian depan ada tubuh bagian belakang dan seterusnya. Semuanya berpasang-pasangan. Sekarang Anda renungkan dunia ini ada musim hujan ada musim kemarau, ada gunung ada lembah, ada daratan ada lautan ada siang ada malam, ada suami ada istri, ada pria ada wanita, ada terang ada gelap, ada gemuk ada kurus, ada orang benar ada juga orang fasik dan seterusnya. Begitu pula dengan keadaan seputar hidup kita sendiri. Ada canda ria, ada tangis pilu; ada senang /gembira, ada sedih/susah; ada derita, ada bahagia; ada pujian ada caci maki; ada cinta kasih ada pula kebencian dan seterusnya bisa anda tambahkan sendiri.
Bila kita simak semuanya itu satu dengan yang lain saling terkait. Tidak mungkin yang satu ada tanpa yang lain, walaupun tampakny berlawanan. Keharmonisan justru akan terwujud kalau hal-hla yang berlawaman saling menyatu. Maka Kitab pengkotbah mengajarkan kebajikan hidup kepada kita
Ada waktu untuk lahir ada waktu untuk meninggal; ada waktu menanam ada waktu untuk menyabut apa yang ditanam; ada waktu untuk membunuh ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu merombak ada waktu untuk membangun; ada waktu menangis, ada waktu tertawa; ada waktu untuk meratap ada waktu untuk menari; ada waktu membuang , ada waktu untuk mengumpulkan; ada waktu untuk memeluk ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu mencari, ada waktu membiarkannya rugi; ada waktu untuk memnyimpan , ada waktu membuang; ada waktu untuk merobek ada waktu untuk menjahit; ada waktu berdiam diri ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci,; ada waktu untuk perang , ada waktu   untuk damai.  Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh 3:2 – 8, 11a)         
Tetapi mengapa dalam hidup sehari-hari kita lebih menerima kebahagiaan atau kesenangan dari pada derita atau kesusuahan? Hal ini karena kita selama ini telah memnadang sebagai sesuatu yang negatif, dan kebahagiaan diterima sebagai sesuatu yang positifdalam mengembangkan kehidupan. Padahal belum tentu sesuatu yang baik itu menyenangkan, dan sesuatu yang buruk itu belum tentu membuat hidup menderita. Sesuatu yang baik bisa membuat hidup lebih sengsara dan sebaliknya sesuatu yang buruk bisa membuat hidup itu bahagia.  
      Di samping derita karena fenomena alam yang tidak bisa ditolak, derita juga disebabkan oleh beberapa hal seperti keangkuhan dan kesombongan manusia, ketidakadilan, dalam hidup, keinginan manusia yang tercapai dan kehendak Tuhan sendiri.
      Sejak di taman Firdaus manusia telah bmempunyai sifat angkuh, sombong, memilki keinginan dan kehendak berbuat jahat. Akibatnya manusia pertama itu jatuh dalam ketakberdayaandan derita hidup yang berkepanjangan. Sifat manusia pertama ini diwariskan turun temurun sampai sekarang. Kita bisa menyimak beberapa kejadian dan tindakan manusia yang mambawa sesamanya menderita. Antara lain penggusuranrumah-rumah, rakyat kecil, pendindasan terhadap para pembantu rumah tangga, peperangan yang terus terjadi, penidasan oleh para penguasa, dan sebagainya. Sikap sombong manusia yang menganggap sesama lebih rendah dari dirinya mengakibatkan ketidakadilan. Masih ada lagi budaya sikap memandang rendah kaum wanita oleh kaum pria, adanya peraturan yang mengekang hak kaum perempuan dan sebagainya. Adanya jurang pemisah yang terlalu dalam antara kaya – miskin. Orang kaya hidup berfoya-foya, bersenang-senang menikmati kekayaannya sedangkan orang miskin hidup menderita seraya menikmati kemiskinannya. Hukum seringkali lebih memihak kepada orang yang memilki kekauasaan dan kekayaan daripada orang kecil yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan sebagai haknya.  Ketidakadilan, ketidakpedulian dan rendahnya rasa solidaritas antar manusia inilah yang membuat hidup orang kecil  makin menderita.  
      Sebagai orang beriman saya sendiri mengakui bahwa kadang ada penderitaan yang ada karena kehendak Tuhan sendiri. Kita ingat akan hidup orang benar, hidup orang-orang suci yang menderita karena iman dan kebanaran yang diperjuangkan. Kita ingat juga akan Yesus sendiri yang rela menderita sampai wafatnya di kayu salib. Perjalanan hidup Yesus adalah perjalanan dengan penuh tapak derita.
Santo Paulus dalam nasehatnya kepada umat di Roma menandaskan
”Kita harus bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidk mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan kepada kita oleh Roh Kudusyang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5 : 3-5)   
Santo Paulus kepada umat di Korintus juga mengatakan bahwa ia tidak tawar hati dalam mengahadapi maut:
” Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbaharui dari hari kehari. Sebab penderitaan ringan  yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitan kami. (2Kor4:16-17)     
Santo Paulus kepada Timotius juga berpesan demikian :
”Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya supaya ia berkenanan kepada komandannya. (2Tim2:3-4)
     
      Ternyata memang hanya dari sudut pandang imanlah kita bisa memandang bahwa tidak ada satu penderitaanpun yang sia-sia. Dalam pandangan Kristen, hidup setelah kematian termasuk unsur pendting dalam menghadapi derita. Berikut kita cermati  pandangan yang sifatnya eskatologis dari rasul Paulus:
Perhatikanlah rahasia ini: tidak semuanya dari kita akan mati tetapi semuanya akan berubah.... Orang—orang yang mati akan dihidupkan kembali dengan badan yang abadi dan kita semuanya akan diubah Badan kita yang bisa mati itu harus memakai badan yang tidak dapat mati dan badan yang dari dunia harus memakai badan yang dari surga. Kalau badan yang dapat mati dan badan yang dari dunia sudah memakai badan yang dari surga, barulah terjadi pa yang tertulis alkitab – Kematian sudah dibasmi, kemenangan sudah tercapai; hai maut di manakah kemenanganmu?”    
Adanya penderitaan bisa selaras atau harmoni dengan kepercayaan akan Allah Yang Maha Esa, hanya jika orang yang menderita dianugrahi suatu kehidupan lain yang penuh dengan damai dan kebahagiaan. Hidup baru tersebut akan berupa suatu relasi intim dengan Allah sendiri dan dengan semua orang ; karena dengan demikian keseimbangan akan melampaui tanpa batas semua bentuk penderitaan yang bisa dibayangkan.

 

F.    SIKAP DALAM MENGHADAPI PENDERITAAN

Kemalangan yang menimpa hidup kita seringkali terjadi secara tiba-tiba dan kadang tanpa alasan. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa kakak ipar saya Indriastuti meninggal dalam usia muda. Tak terbayangkan juga budhe saya menjadi korban gempa di Bantul Yogyakarta karena tertimpa tembok. Tak terbayangkan juga saya sendiri mengalami sakit mendadak dengan gejala diare dan mutah-mutah sampai dehidrasi berat, dan nyawa saya sudah hampir tidak bisa diselamatkan jika tindakan infus terlambat beberapa menit  , benar-benar hanya dalam waktu singkat peristiwa tersebut terjadi.   
      Mengalami kemalangan yang datang secara tiba-tiba serta tidak kita ketahui sebab musababnya seringkali membuat kita sama sekali tak berdaya. Bahkan kita tidak mau menerima kenyataan itu. Kita seringkali berusaha untuk menolaknya, wlaupaun kenyatannya kemalangan itu telah melanda hidup kita. Kisah hidup Ayub serta berbagai kisah pilu yang kita alami menyatakan bahwa kita sungguh manusia lemah yang hidup penuh misteri. Saudara-saudara  kita di Yogyakarta  pada tanggal 27 Mei pukul 05.50  sungguh sungguh tidak menduga ,mengalami gempa yang memporakporandakan semua yang ada dan menewaskan ribuan orang. Sebagai manusia mereka pada awalnya menolak mengapa kejadian alam itu mesti terjadi. Namun kemudian mereka bisa menerima bahwa itu kejadian alam yang diluar kemampuan manusia. Kalau alam sudah bergolak tak ada yang mampu menghalanginya.
      Bersama Ebiet G Ade alam menjawab dalam alunan syairnya ” kalian musti telanjang dan benar-benar bersih, kebaskan debu yang masih melekat...”. Alam seakan akan bertanya tanpa jawaban”Siapakah engakau manusia sehingga engkau menganggap diri lebih dari makhluk lain? Mengapa engkau menangis, \mengeluh dan menolak tawaran kami untuk mengembalikan engkau kepada asalmu”.
      Belum sirna ketakutan akibat gempa, tiba-tiba terjadi semburan lumpur panas yang menimpa masyarakat Sidoarjo, Jawa Timur. Semuanya lenyap dalam sekejap. Rumah-rumah tanpa penghuni perlahan-lahan tenggelam dalam lumpur.
Tak terbayangkan dalam pikiran masyarakat bahwa mereka akan mengalami derita serta mengungsi ke tempat yang tak mereka inginkan. Mereka mengeluh kepanasan, kedinginan, kelaparan dan rasa tidak aman. Namun pengalaman-pengalaman inilah yang membuat mereka kuat dan siap siaga setiap saat. Seorang ibu di tempat pengungsian di Pundong Bantul mengatakan kepada saya dalam bahasa Jawa yang diterjemahkan dalam bahasaindosesia :” Inilah hidup! Hidup yang harus dijalani dengan kesabaran, ketika semuanya hilang lenyap dalam sekejap. Tuhan pasti punya rencana untuk saya dalam hidup ini. Buat apa susah, karena susah tiada gunanya. Buat apa sedih karena kesedihan pasti akan berlalu. Inilah saatnya bagi saya untuk memulai segala sesuatunya secara baru dengan hidup ini.”  
Dave  Andrews (dalam bukunya ”Building A Better World”, hal 188-206) menulis bahwa kita harus memandang Negara seperti rumah kita sendiri. Pandangan ini dapat mengantar kita untuk melihat sesama sebagai saudara-saudari yang patut dibantu, dihargai dan dicintai. Bila konsep semacam ini hidup dalam masyarakat maka  kita akan mengalami kedamaian hidup. Kita pasti dapat menghalau setiap bentuk kekerasan, kekelaman, kelaliman, kekejaman  dalam masyarakat kita. Kita pun akan berdampingan bersama dengan orang lain sebagai keluarga. 
Setiap bentuk kemalangan yang menimpa hidup kita, pasti dapat kita atasi secara bersama-sama. Tuhan mengaharapkan agar kita hidup sebagai manusia beriman di tengah kehidupan yang nyata sehari-hari. Iman harus dihidupkan dalam kata-kata, pandangan, perasaan, tindakan, dan perbuatan nyata. Iman tidak bisa hanya disimpan dalam Kitab Suci atau dalam rumah ibadat.
Dari pembahasan di atas kita bisa mengatkan demikian ;
1.   Kadang-kadang badai kehidupan menimpa kita, memporak porandakan semua yang telah kita bangun dalam sekejap.
2.   kadangkala badai kehidupan mengantar kita pada suatu kehidupan yang serba susah dan derita tanpa alasan dan di luar pemikiran sehat kita.
3.    Ada berbagai kehidupan yang menimpa kita ada yang dahsyat ada yang biasa-biasa saja.
4.   Seringkali badai kehidupan membuat hidup kita kehilangan makna, kehilangan jati diri atau eksistensi atau kehilangan iman.
5.   Badai kehidupan bisa juga menyadarkan kita akan kuat kuasa Tuhan sendiri. Kita melihat diri sebagai manusia lemah tanpa daya.
6.   Badain kehidupan bisa menjadikan kita lebih matang dalam memaknai diri, lebih matang dlam memaknai kebajikan-kebajikan dan cinta sejati
7.   Badai kehidupan bisa membangkitkan rasa solidaritas dengan sesama yang menderita , yang malang, yang tak berdaya, yang mengalami badai kehidupan secara tiba-tiba. Cinta kepada sesama akan lebih dalam.

Kepada para muridnya Yesus yesus memberikan nasehat :” Waspadalah supaya kamu jangan disesatkan. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera” (Luk 21: 7,9). Sikap waspada itulah yang selalu diminta Yesus.
Dalam mengahadapi semua yang bisa terjadi. Para murid diharapkan tetap tabah dan sabar menanggung semua beban kehidupan yang menghimpit .
”Bangsa – akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan dan akan terjadi gempa yang dahsyat di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda dari langit. Tetapi sebelum semua itu kamu akan ditangkap dan dianiaya, kamu akan diserahkan ke rumah –rumah ibadat dan penjara-penjara dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa oleh karena namaKu. Hal itu menjadi kesempatan bagi kamu untuk bersaksi. Sebab itu tetaplah di dalam hatimu supaya kamu jangan memikirkan pembelaanmu (Luk 21 :10 – 14).

Tuhan Yesus juga selalu meminta kepada para muridnya supaya selalu berjaga-jaga  sambil berdoa supaya memperoleh kekuatan saat ditimpa kemalangan dan pernderitaan yaitu sebagai berikut ;
Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa supaya kamu memperoleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan anak manusia. (Luk 21: 36)
Berjaga-jagalah dengan berbuat baik selama kita masih iberi kesempatan untuk hidup. Berjaga-jagalah dan bekalilah diri kita dengan kebajikan dan cinta yang bernyala-nyala jngan pernah meninggalkan Tuhan, karena dari Dia kita dibentuk dan kepada Dia kita akan kembali. Cintailah Tuhan dengan sekuat tenagamu dan dengan segenap kekuatanmu. Tuhan itulah kekuatan kita tatkala kita berada dalam kelemahan dan ketakberdayaan.   
Seringkali kita merasa takut dengan hidup ini. Kita takut karena kita terus mengarahkan pandangan pada kejadian-kejadian kelam masa lalu hidup kita. Untuk itu kita perlu memupuk dalam diri kita suatu pandangan baru untuk hidup di sini dan saat ini. Hiduplah di sini di tempat kita berada dan hayatilah bahwa kita sedang hidup sekarang ini.  Maka James Thurber menandaskan ”Janganlah kita melihat ke belakang dengan kemarahan dan penyesalan atau melihat ke depan dengan penuh ketakutan dan kegentaran, tetapi lihatlah di sekitar kita dengan penuh kewaspadaan.”  Barangsiapa percaya kepada Tuhan ia pasti akan melihat bahwa hidup ini tidak hanya berakhir di dunia ini. Hidup ini akan tetap hidup walaupun tubuh yang fana ini telah tiada akibat kemalangan yang membelenggu.
Tidak ada faedahnya menyalahkan diri sendiri ketika kita jatuh berdaya . bangkitlah dan mulailah menata hidup secara baru. Selama kita hidup di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Masalah seberat apapun dapat diatasi, kalau kita dapat sabar terhadap hidup, tidak menyalahkan diri sendiri dan orang lain, tidk memperthankan gengsi dan penilaian masyarakat. Kalau kita terlalu memikirkan masalah yang menimpa hidup ini, beban hdup akan semakin berat dan kita akan mengalami sakit dan hidup tak berdaya, pupuslah semua harapan dan cita-cita kita. Percayalah kepada Tuhan hanya dengan dan dalam Tuhan, kita pasti bisa mengatasi kemalangan hidup sendiri.    

     

G.   PENUTUP

Dalam refleksi filsafat kita tidak mampu menguak alasan mendasar mengapa ada penderitaan di dunia ini bahkan penderitaan yang menimpa orang-orang yang tak bersalah. Hanya dalam terang iman kita mampu melihat bahwa segalanya memilki makna. Segala derita dan kegelapan hidup akan memapukan kita melihat kuat kuasa Tuhan. Yang begitu dahsyat dalam diri kita. Semua yang kita miliki termasuk tubuh sendiri merupakan anugrah-Cuma-Cuma dari tuhan. Tuhanlah sendiri yang memberi dan kita menggunakanny. Dia sendiri yang akan mengambil semuanya dari kita menurut kemauan-Nya. Dia sendirilah yang akan menggoncangkan kita agar kita memilki keyakinan teguh pada-Nya.  
       
  

  DAFTAR PUSTAKA

Alberto.A.Djono Moi, O. Carm, Mengapa Orang Baik Ditimpa Kemalangan 
                        Penerbit Pustaka Nusantara 2007

Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan
                        Penerbit Kanisius 2006

Johanes Robini M, HJ Suhendra , Penderitaan dan problem Ketuhanan
                        Suatu telaah Filosofis Kitab Ayub
                        Pustaka Filsafat  Penerbit Kanisus 1998

Kirchberger Georg, Pandangan Kristen Tentang Dunia dan Manusia
                        Penerbit Ledalero Maumere 2002

Louis Leahy, SJ , Horizon Manusia Dari Pengetahuan ke Kebijaksanaan
                        Pustaka Filsafat Penerbit Kanisius 2002

Louis Leahy, SJ, Aliran Aliran Besar  Ateisme dalam Tinjauan Kritis
                        Penerbit Kanisius 1985












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar