Jumat, 12 Oktober 2012

PER MARIAM AD IESUM

PER   MARIAM   AD   IESUM
Melalui Maria menuju Yesus

Oleh R Edy Ambar Roostanto

A.   PENGANTAR
Coba kita simak lagu berikut dimana sebagian besar masyarakat Katholik Jawa sudah cukup akrab dengan dengan lagu ini :

                  
Nderek Dewi Maria temtu gengkang manah
                   Boten yen kuwatosa ibu njangkung tansah
                   Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarak samya
                   Ref :    Sang Dewi sang dewi mangestanana
                               Sang Dewi  sang Dewi mangestanana


Sebuah lagu yang indah yang menuansakan sebuah suasana hati yang damai dan yakin akan perlindungan Bunda Maria setiap saat.  Pada umumnya juga lagu ini begitu akrab dilantunkan saat bulan Mei dan Oktober. Sebuah tradisi dimana umat Katholik menggunakan bulan ini sebagai bulan Rosario. Tempat tempat ziarah menjadi padat dikunjungi orang dalam bulan itu. Sesuatu yang bagi kita umat Katholik adalah hal yang biasa. Hal ini akan menjadi rumit bila apa yang kita lakukan selama ini dan iman yang kita hayati harus dipertanggungjawabkan. Terutama bila kita harus menghadapi pertanyaan pertanyaan seputar Bunda Maria yang dilontarkan oleh pihak diluar Gereja Katholik.
·         Apa tujuan devosi kita kepada Maria?
·         Mengapa kita harus berdoa melalui Maria ?
·         Apakah tidak cukup langsung saja kepada Tuhan Yesus?
·         Bagaimana bisa Maria dikandung tanpa dosa asal?
·         Mengapa orang katholik percaya Maria diangkat ke surga jiwa raganya?
·         Mengapa Maria disebut Bunda Allah ? Apa dasarnya ?
·         Mengapa Maria tetap perawan seperti didoakan dalam aku Percaya ?
·         Mengapa Maria disebut Bunda Gereja?

Tidak cukup kita menjawab  “ Ini yang saya imani bila anda tidak mengimaninya ya sudah !“  Melaui tulisan singkat saya ini saya ingin mengajak anda para pembaca untuk melihat latar belakang dan dasar pertanggungjawaban iman kita di hadapan orang lain. Dengan demikian kita bisa semakin mengenal Maria dan mempertanggungjawabkan iman kita. Dengan demikian kita semakin dekat dibawa kepada Putranya. Maka tulisan saya ini berjudul Per Mariam Ad Iesum. Melalui Maria kita bisa dibawa semakin dekat dengan Tuhan Yesus.
           
B.    SUMBER IMAN    
Sebelum kita membahas lebih dalam tema kita kali ini , baiklah kita bicarakan sebentar masalah sumber iman. Orang sering mempertanyakan dasar alkitabiah tentang sesuatu dogma Gereja Katolik. Banyak ajaran Gereja Katolik yang tidak bisa diterima oleh Gereja- gereja Reformasi, karena menurut mereka ajaran itu tidak alkitabiah. Sumber perbedaan itu terletak pada perbedaan paham mengenai sumber iman Gereja. Bagi Gereja-gereja Reformasi satu-satunya sumber iman adalah Alkitab. Maka terkenal dengan ungkapan Sola Scriptura (= hanya Alkitab), sebagai salah satu semboyan mereka. Bagi mereka : apa yang tidak disebut dalam alkitab tidak benar. Lain halnya dengan Gereja Katolik. Bagi Gereja Katolik sumber iman bukanlah alkitab saja melainkan juga tradisi. Menurut ajaran Katolik wahyu atau Sabda Allah itu diterima dalam iman oleh Gereja, lalu dihayati secara lisan dalam seluruh kehidupan Gereja, terutama dalam ibadat dan ajaran resmi para rasul dan penggantinya. Apa yang dihidupi dalam Gereja para rasul dilanjutkan secara turun temurun. Itulah yang disebut tradisi itu. Tradisi berasal dari kata Latin yaitu tradere  yang berarti melanjutkan , meneruskan. Atas dorongan Roh Kudus para penulis suci menuliskan Wahyu Allah yang dihayati dalam tradisi tadi. Tradisi yang tertulis itulah disebut alkitab. Jadi dengan demikian Alkitab sendiri merupakan bagian dari tradisi. Apakah seluruh tradisi terdapat dalam Alkitab? Dengan kata lain sebagian sabda Allah ada dalam tradisi dan sebagian dalam Alkitab? Penetapan Kanon Kitab suci adalah sebuah dogma pertama yang dibuat Gereja. Pada dogma inilah semua keputusan lain dikemudian hari didasarkan dan dogma inilah yang memungkinkan keputusan lain itu. Dipandang dari sudut epistemologi teologis, kita katakan bahwa bersama dengan tradisi dan dalam kaitan erat dengannya hanya kitab kitab yang termaktub dalam Kanonlah yang memungkinkan Gereja memperoleh pengetahuan yang benar dan mengikat mengenai wahyu dalam Yesus Kristus.
Berikut ini saya kutipkan  dari salah satu dokumen Gereja, Konstitusi Dogmatis  Dei Verbum yang diambil dari Katekismus Katolik
         Tradisi Apostolik
75     "Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Mahatinggi (lih. 2Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka" (DV 7).
Khotbah Apostolik...
76     Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:
-- secara lisan "oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari";
-- secara tertulis "oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga telah membukukan amanat keselamatan" (DV 7).
... Dilanjutkan dalam Suksesi Apostolik
77     "Adapun, supaya Injil senantiasa terpelihara secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para Rasul meninggalkan Uskup-Uskup sebagai pengganti-pengganti mereka, yang `mereka serahi kedudukan mereka untuk mengajar" (DV 7). Maka, "pewartaan para Rasul, yang secara istimewa diungkapkan dalam kitab-kitab yang diilhami, harus dilestarikan sampai kepenuhan zaman melalui penggantian-penggantian yang tiada putusnya" (DV 8).
78     Penerusan yang hidup ini yang berlangsung dengan bantuan Roh Kudus, dinamakan "tradisi", yang walaupun berbeda dengan Kitab Suci, namun sangat erat berhubungan dengannya. "Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya" (DV 8). "Ungkapan-ungkapan para Bapa Suci memberi kesaksian akan kehadiran tradisi itu yang menghidupkan, dan yang kekayaannya meresapi praktik serta kehidupan Gereja yang beriman dan berdoa" (DV 8).
79     Dengan demikian penyampaian Diri Bapa melalui Sabda-Nya dalam Roh Kudus tetap hadir di dalam Gereja dan berkarya di dalamnya: "Demikianlah Allah, yang dahulu telah bersabda, tiada henti-hentinya berwawancara dengan Mempelai Putera-Nya yang terkasih. Dan Roh Kudus, yang menyebabkan suara Injil yang hidup bergema dalam Gereja, dan melalui Gereja dalam dunia, menghantarkan Umat beriman menuju segala kebenaran, dan menyebabkan Sabda Kristus menetap dalam diri mereka secara melimpah (lih. Kol 3:16)" (DV 8).
Hubungan antara Tradisi dan Kitab Suci
Satu Sumber yang Sama ...
80     "Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama" (DV 9). Kedua-duanya menghadirkan dan mendayagunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orang-Nya "sampai akhir zaman" (Mat 28:20) .
... Dua Cara yang Berbeda dalam Mengalihkannya
81     "Kitab Suci adalah pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi".
"Oleh Tradisi Suci Sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan, dan menyebarkannya dengan setia" (DV 9).
82     "Dengan demikian maka Gereja", yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, "menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama" (DV 9).
Tradisi Apostolik dan Gerejani
83     Tradisi yang kita bicarakan di sini, berasal dari para Rasul, yang meneruskan apa yang mereka ambil dari ajaran dan contoh Yesus dan yang mereka dengar dari Roh Kudus. Generasi Kristen yang pertama ini belum mempunyai Perjanjian Baru yang tertulis, dan Perjanjian Baru itu sendiri memberi kesaksian tentang proses tradisi yang hidup itu.
Tradisi-tradisi teologis, disipliner, liturgis atau religius, yang dalam gelindingan waktu terjadi di Gereja-gereja setempat, bersifat lain. Mereka merupakan ungkapan-ungkapan Tradisi besar yang disesuaikan dengan tempat dan zaman yang berbeda-beda. Dalam terang Tradisi utama dan di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, tradisi-tradisi konkret itu dapat dipertahankan, diubah, atau juga dihapus.
Dengan dua cara itulah para rasul melaksanakan perintah Kristus yakni dengan pewartaan tidak tertulis atau Tradisi dan dengan pewartan terulis atau Alkitab. Kesamaan kedua cara ini adalah asal usul maksud dan tujuan serta muatannya. Kedua-duanya berasal dari Allah sendiri, dimaksudkan untuk meneruskan wahyu, dan memuat sabda Allah yang dijamin keutuhannya oleh Roh Kudus. Seluruh wahyu ada dalam Kitab Suci dan Tradisi. Hanya saja tidak semua hal disebut secara jelas dalam Alkitab, melainkan secara implisit di dalamnya. Ajaran tentang Maria ada yang secara eksplisit tercatum dalam Alkitab dan ada yang secara implisit. Kita akan mendalaminya pada bagian selanjutnya .

C.   DEVOSI MARIAL
Sebelum masuk  lebih jauh kepada devosi Marial ada baiknya kita lihat tujuan devosi kepada orang kudus termasuk Maria . Hal ini dijelasakan dalam Konsili Vatikan II dalam sebuah dokumen Lumen Gentium 51 yaitu :
    1. Mencontoh teladan mereka ( ! Kor 11 : 1)
    2. Menikmati kebersamaan di dalam persekutuan para kudus, yaitu mereka yang percaya akan keberadaan surga dan dunia (Ef 3:15 ; Ibr 12:1).
    3. Memohon doa perantaraan mereka bagi kebutuhan jasmani, mental dan spiritual kita (2 Mak 15:12 – 16 ; Mzm 106 :23)

Lalu apakah kita berarti berdoa kepada Maria atau para kudus ?
Bila diteliti secara teologis, ungkapan “berdoa kepada”  sebetulnya kurang tepat untuk mengatakan bahwa kita berdoa kepada Maria atau kepada orang kudus atau malaikat manapun karena kita hanya boleh berdoa kepada Tuhan Allah. Lebih tepat kita mengatakan kita berdoa bersama dengan malaikat atau para kudus dan mereka berdoa bersama dengan dan untuk kita. Namun dalam pengertian yang lebih luas kita bisa berkata bahwa kita “berdoa kepada” Maria dan “kepada” orang kudus bila menyapa mereka dalam suasana  memohon kepada mereka agar berdoa untuk kita seperti yang dilakukan dalam doa salam Maria “Doakanlah kami yang berdosa ini”. Doa para orang kudus di hadirat Allah lebih kuat daripada doa kita, karena iman mereka sudah tidak terbatas dibanding dengan iman kita. Dengan demikian mereka merupakan partner doa yang paling sesuai dalam berdoa.

D.   MARIA MEDIATRIX (Kepengantaraan Maria)
Dalam bagian ini kita akan mengupas devosi secara khusus kepada Maria. Ini untuk menanggapi pertanyaan “Apa perlunya kita pergi kepada Allah melalui Maria , dan mengapa tidak langsung kepada Allah ?
Ada 6  argumentasi dituliskan oleh John H Hampsch, CFM dalam  bukunya Maria dalam Kitab Suci sebagai berikut :
1.      Yesus adalah perantara satu-satunya dalam hal penebusan, sebagaimana terungkap dalam teks teks yang berhubungan dengan kepengantaraan –Nya (1 Tim 2:5 ; Kis 4:12 ; Ibr 7 : 25). Sebaliknya kepengantaraan Maria tidak mempunyai sifat penebusan; kepengantaraannya hanya bersifat menyampaikan permohonan. Tidak ada satupun teks dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya perantara di dalam Doa.
2.       Kepengantaraan Maria juga bersifat keteladanan; dia menjadi perantara dengan memberikan teladannya yang mendekatjkan kita pada Allah. Paulus adalah seorang perantara dengan cara serupa, sebagaimana diungkapkan dalam 1 Kor 11.
3.      Ketergatungan kita kepada talenta dan karunia-karunia orang lain di dunia ini mencerminkan betapa kita saling tergantung dalam membagi-bagikan karunia-karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada umat-Nya. Dengan cara yang sama kita juga bisa mendapat bagian dalam karunia-karunia yang dianugerahkan kepada para orang kudus, termasuk dalam kekuatan doa perantaraan mereka.
4.      Karunia karunia yang dianugerahkan kepada Maria  dimaksudkan demi kebaikan kita. Bila mengingat bahwa jarunia-karunia itu dianugerahkan kepada Maria dalam derajad yang istimewa. Hal ini termaktub dalam Luk 1 :28, 42, 48 – dapatlah dikatakan bahwa Maria menjadi perantara untuk kita dengan cara yang khas. Itulah sebabnya Maria lebih unggul sebagai pengantara doa, walaupun sifat kepengantaraanya pada dasarnya sama dengan kepengantaraan yang kita praktekkan, namun dengan daya yang jauh lebih kuat, karena status khusus yang dianugerahkan kepada Maria (‘engkau yang dikaruniai” –“penuh rahmat”). Karena itu kalau kita tidak mengakui bahwa Tuhan telah menganugerahkan kasih karunia dan berkat khusus kepada Maria, dan tidak mengakui jawaban Maria atas anugerah-anugerah itu dan tanggapan Maria yang menguntungkan kita  itu berarti kita mengabaikan cara Tuhan menyalurkan rahmatNya.
5.       Sebagaiomana Maria di Kana menggunakan kekuatan doa perantaraannya untuk membujuk Yesus agar mengerjakan mukjizat-Nya yang pertama, “walaupun saat-Nya belum tiba “ (Yoh 2 :4) , kekuatan doa perantaraan yang sama kini masih dimiliki Maria di surga. Andaikan Maria di surga dilucuti kekuasaannya sebagai perantara doa maka surga menjadi tempat pengurangan daripada tempat penggenapan, dan hal ini bertentangan dengan apa yang tersirat dalam Ibr 11:40 dan 12:1
11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita ; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan
12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita , marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita
6.      Kedudukan Maria sebagai perantara bukan seperti stasiun relay. Maria tidak me-relay kebutuhan kebutuhan kita kepada Tuhan Allah, seolah olah permohonan kita itu diteruskan kepada Tuhan Allah melaui dia. Lebih baik memandangnya seperti dua anak panah yang secara paralel diarahkan kepada Allah, sesuai denganapa yang dijanjikan oleh Injil dalam Mat 18:19 :
Dan lagi berkata kepadamu : jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkanoleh Bapa-Ku yang di surga
Maria tidak berdiri di antara kita dan Allah untuk meneruskan doa-doa kita kepada Tuhan, tetapi dia bergabung dengan kita dalam persekutuan doa.

E.    MENGAPA MENELADAN MARIA  - TIDAK CUKUPKAH MENELADAN YESUS ?
Makna terdalam kehidupan Kristiani adalah mengikuti teladan Kristus dan membiarkan kehidupan-Nya menjadi nyata dalam diri kita (Ef 5 : 1-2). Tempat Maria dalam mengikuti teladan teladan Kristus ialah bahwa dalam Maria kasih karunia Kristus terwujud secara nyata. Kalau Yesus adalah sang Penebus sejati, maka Maria adalah manusia yang secara paling sempurna ditebus- dalam diri Maria ini rahmat Kristus terwujud secara paling sempurna. Dengan meneladani Maria berdasarkan pengertian ini kita akan menjadi menyerupai Kristus. Maka jika meneladani Maria dalam kebajikan-kebajikannya dan dalam ketakberdayaannya yang membuat dia serupa dengan Kjristus. Hal itu tidak membuat kita menyimpang dari teladan hidup Yesus, melainkan justru meneguhkan kita dalam mengikuti jejak Kristus. Ada aspek dari kristus yang tidak bisa diteladan misalnya martabat-Nya sebagai pencipta, pendiri Gereja, kepala Tubuh Mistik , Penebus dan sebagainya. Maria menyediakan bagi kita suatu model kebajikan yang tidak mengecualikan segi-segi yang tidak bisa kita teladani (bahkan ketakberdosaannya paling tidak bisa kita usahakan untuk meneladaninya.

F.     MARIA IMMACULATA (Maria dikandung tanpa noda)
Maria Immaculata di sini berarti Maria dikandung tanpa noda. Hal ini tidak mengacu kepada konsepsi ajaib Yesus dalam rahim Maria – tidak juga pada kelahiran-Nya dari seorang perawan; tetapi istilah itu mengacu pada terbebasnya Maria dari sejak saat konsepsi Maria sendiri dalam rahim Santa Anna. Maria dicegah dari dosa pribadi sepanjang hidupnya. Ada dua teks Alkitab yang dapat diajukan sebagai dasar
Kej 3:15  Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan tumitnya.
Tradisi Gereja yang sangat kuno melihat ayat ini sebagai Injil Pertama. Yakni kabar baik yang menjanjikan keselamatn segera sesudah manusia pertama berdosa. Jelas ular yang dimaksud adalah setan.  Lalu keturunan waita yang meremukkan kepala setan hingga mati itu adalah Mesias. Maka perempuan yang harus bermusuhan dengan setan dan yang menjadi bunda Mesias yang meremukkan kepala setan itu pastilah bukan Hawa si pendosa itu melainkan bunda Mesias. Bagi kita Mesia itu adalah Yesus dari Nasaret dan ibunya pastilah Maria. Jadi sejak awal mula Allah menempatkan Maria sebagai musuh setan , musuh dosa(Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini)bersatu erat dengan Puteranya yang meremukkan kepala setan, Maria sejak
semula menjadi lawan setan/dosa, artinya dibebaskan dari noda dosa.     




Dasar alkitabiah yang kedua adalah
Luk 1:28   Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata “Salam hai engkau yang dikaruniai,  Tuhan menyertai engkau 
“Engkau yang dikaruniai” merupakan terjemahan kata Yunani “kecharitomene.” Seperti yang dikatakan Origenes, sebutan “yang dikaruniai “ tidak pernah diberikan kepada manusia lain kecuali kepada Maria. Sebutan itu bukan sekadar gelar melainkan merupakan hakekat Maria. Jadi ia adalah yang dikaruniai. Memang ia dikaruniai Allah dengan Yesus Kristus, sumber segala karunia. Karena hakekat Maria yang dikaruniai maka Maria tidak mungkin dinodai noda dosaasal. Bukankah dosa asal itu membuat manusia tidak mampu menerima kepenuhan karunia ? Dengan demikian Gereja Katolik menyimpulkan bahwa Maria itu dikandung tanpa noda dosa asal maupun dosa pribadi. 
Berikut ini saya kutipkan Dokumen Gereja tentang hal ini yang terdapat dalam Katekismus Katolik
Dikandung tanpa Noda Dosa
490   Karena Maria dipilih menjadi bunda Penebus, "maka ia dianugerahi karunia-karunia yang layak untuk tugas yang sekian luhur" (LG 56). Waktu pewartaan, malaikat menyalaminya sebagai "penuh rahmat" (Luk 1:28). Supaya dapat memberikan persetujuan imannya kepada pernyataan panggilannya, ia harus dipenuhi seluruhnya oleh rahmat Allah.
491    Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, "dipenuhi dengan rahmat" oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma "Maria Dikandung tanpa Noda Dosa", yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX:
... bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal" (DS 2803).
492    Bahwa Maria "sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa" (LG 56), hanya terjadi berkat jasa Kristus: "Karena pahala Puteranya, ia ditebus secara lebih unggul" (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta yang mana pun Bapa "memberkati dia dengan segala berkat Roh-Nya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam surga" (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.
493   Bapa-bapa Gereja Timur menamakan Bunda Allah "Yang suci sempurna" [panhagia]: mereka memuji dia sebagai yang "bersih dari segala noda dosa, seolah-olah dibentuk oleh Roh Kudus dan dijadikan makhluk baru" (LG 56). Karena rahmat Allah, Maria bebas dari setiap dosa pribadi selama hidupnya.
Selanjutnya seorang Teolog Fransiskan abad pertengahan Duns Scotus  menjelaskan : seperti juga kesehatan bisa diperoleh dengan cara mencegah penyakit atau dengan menyembuhkan penyakit, demikian pula keselamatan –penerimaan penebusan bisa diperoleh dengan cara yang sama . Maria diselamatkan atau ditebus sebelum tindakan penyelamatan Yesus , yaitu oleh penetapan antisipatif tindakan penebusan itu. Maria bukan diselamatkan dari dosa pribadimelainkan diselamatkan dari berbuat dosa



Para pembaca, masih ada 5 kutipan Kitab suci yang secara tidak langsung merujuk pada ajaran Maria Immaculata ini yaitu
·         Mzm 51:11 …kebebasan dari dosa mesti berasal dari Allah
·         Mzm 18:24 ..karena hanya dengan kuasa allah seseorang dapat menyatakan “Aku berlaku tidak bercela di hadapannya dan menjaga diri terhadap kesalahan. 
·         Kidung Agung 4:7 Allah berkata mengenai pengantin-Nya : Engkau cantik sekali, manisku tak ada cacat cela padamu
·         Luk 1 :35 Jawab malaikat itu kepadanya : Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi  akan menaungi engkau ; sebab itu anak yang kaul;ahirmkan itu akan disebut kudus Anak Allah 
·         Keb 1 :4 Kebijaksanaan tidak masuk ke dalam hati keruh dan tidak pula tinggal dalam tubuh yang dikuasai oleh dosa
.
Kiranya sudah cukup jelas di sini hakekat Maria Immaculata.  Maria telah mengantar Allah kepada umat manusia menjadi citra Gereja yang mempunyai fungsi yang sama yaitu suatu fungsi yang mengandung panggilan untuk menjadi kudus dan tak bercela (Ef 5 :27). Maka tepatlah Allah menentukan wanita ini untuk menjadi pola cita-cita Gereja, dengan membuat Maria  tetap tanpa dosa dan tak bercela.
        
G.   MARIA ASSUMPTA (Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya )
Seperti halnya dengan dogma Maria Dikandung tanpa dosa, demikian pula ajaran Maria diangkat ke surga dengan jiwa raganya (anima et corpus) ada dasar alkitabiahnya walaupun secara tidak langsung.
Pertama , secara negatif, tidak ada apapun di dalam Kitab Suci yang menentang ajaran ini
Kedua, di berbagai tempat dalam Kitab Suci kita menemukan kasus-kasus pengangkatan ke surga secara badaniah (kadang disebut kebangkitan badan) Jadi gejala tersebut tidak merupakan sesuatu yang baru. Kitab suci berbicara sebanyak lima kali menyebutkan tentang pengangkatan ke surga , ya1tu Kej 5:24, Sir 44:16, Sir 49:14, Ibr 11:5,  2Raj 2:11
Ketiga , kepercayaan ini mempunyai dasar tradisi yang sangat kuat bahwa Maria setelah kematiannya dengan jiwa raganya diangkat ke surga.
Bila Maria memang mati dikubur, mengapa tidak ada data sejarah tentang kuburan Bunda kita? Atas bantuan ilmu sejarah dan arkeologi dan cerita
      tradisi kita bisa mengetahui:
1. Kandang domba tempat Yesus lahir (sekarang menjadi gereja Nativity)
2. Kuburan Santo Petrus (di Basilika Petrus Vatikan)
3. Kuburan Santo Paulus (di Basilika Petrus Vatikan)
Seseorang sepenting Bunda Yesus pasti kematiannya akan menjadi bahan pembicarraan dan orang akan berzirah ke kuburannya sekedar untuk memberi hormat dan merenung. Tapi tidak ada data historis yang reliable terhadap kuburan Bunda Maria. Terlebih dari itu sejak abad ke 7 (600 ), baik umat gereja di Barat maupun di Timur sama-sama merayakan pesta Maria Asumpta (pengangkatan Maria). Paus Sergius (687-707) memerintahkan prosesi yang khidmat di hari tersebut( Liber. Pontif., P. L., t. CXXVIII, c.898 ). Di Timur, St Modestus, Patriarch Yerusalem(d. 634) dalam "Encomium in dormitionem Deiparae (P. G., t. LXXXVI, col. 3288ff) bersaksi atas kepercayaan [terhadap Assumption] tersebut (RGL, p. 162).
Tradisi ini dikuatkan dengan banyak penemuan benda purbakala dan naskah kuno yang mendukung kepercayaan bahwa Maria diangkat ke surga
Pengangkatan rohani ke surga  dibicarakan Paulus dalam Ef 2 : 4-6
Allah telah menghidupkan kita bersama –sama dengan Kristus oleh kasih kurnia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga
Dogma tentang Maria diagkat ke dalam kemuliaan surgawi diresmilkan pada tahun 1950 oleh Paus Pius XII dan dirumuskan sebagai berikut :
Maria , Bunda Allah dan perawan tetap yang tak bernoda , diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raga setelah ia menyelesaikan jalan hidupnya di bumi ( DS 1903).
Ajaran itu dinyatakan terkandung dalam pewahyuan Ilahi, sehingga wajib diimani demi keutuhan iman kepercayaabn kristen. Dalam dogma terbuka kemungkinan Maria mati. Apakah Maria mati ?
Kalau dalam Kej 2:17, 3:19 ;Keb 2:24 ; Rm 5:12-18 menghubungkan kematian dengan dosa, maka kematian itu ialah kematian fisik teologik. Artinya terpisahnya secara definitif manusia dan Allah, terputusnya relasi manusia dengan Allah Penyelamat . Sebagai gejala fisik biologik kematian hanyalah suatu gejala yang wajar dan alamiah, terikat pada manusia sebagai makhluk jasmaniah rohaniah. Jadi kalaupun orang bebas dari dosa (asal), ia tidak bebas dari kematian fisik biologik. Ia bebas dari kematian fisk teologik . Yang bisa dikatakan tentang Maria, bahwa dia mati secara lain dari cara yang dialami manusia berdosa
Jika diterima bahwa Maria mengalami kematian maka iapun dibangkitkan . Namun kebangkitan semacam itu tidak berarti dihidupkan kembali seolah olah Maria melanjutkan eksistensinya dahulu. Kebangkitan Maria tidak boleh disejajarkan dengan kebagkitan Kristus. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa penyelamatan yang memilki nilai soteriologik, sedangkan kebangkitan Maria hanya memilki nilai Mariologik. 
Motif pengangkatan memang tersebar dalam Kitab suci misalnya Henokh (Kej5:34) dan Elia (2Raj 2:11) Kis1;9-10 yang memindahkan motif itu kepada Yesus. Dalam tradisi Yahudi motif yang sama diterapkan pada Musadan lain-lain tokoh. Dalam Al-Quran pengangkatan semacam itu dihubungkan dengan Muhamad. Bila karunia istemewa ini dapat diberikan kepada Henokh dan Elia dan mungkin saja kepada banyak otrang yang dibangkitkan di Yerusalem pada Jumat agung (Mat 27:52-53), maka sangat tidak wajar bila karunia istimewa tersebut tidak diberikan kepada Maria yang terpuji diantara semua wanita.

H.    MARIA , MATER DEI (Maria Bunda Allah)
Apakah ajaran ini memberi arti bahwa Maria hidup sebelum Allah ada, sebagaimana seorang ibu selalu hidup sebelum anaknya, dan Maria membangkitkan ke-Allahan ?
Jelas tidak mungkin ada makhluk yang meciptakan Sang Pencipta ? Jelas sekali bahwa Maria bukanlah ibu yang menurunkan ke-Allahan , dia tidak mungkin memproduksi Allah Yang Kekal. Namun Maria sesungguhnya bisa disebut Bunda Allah. Yesus adalah seorang pribadi yang adalah Allah dan bila Maria memang ibu dari pribadi tersebut, yakni dari Yesus maka tidak salah dia disebut Bunda Allah sebagaimana Elisabeth menyapa dia          (Luk 1 :43). Ajaran ini bisa dimengerti bila mengetahui ajaran pokok iman Kristiani, Yesus itu manusia  100% sekaligus Allah 100%. Maria adalah hasil karya-Nya , Dia sebagai Allah tetapi sebaliknya Dia hasil karya Maria saat Dia diapandang sebagai manusia. Dalam kodrat Allah ia menciptakan Maria dan dalam kodrat manusia Ia dilahirkan Maria.
Tentang Yesus adalah Allah dan sekaligus manusia secara lengkap anda dapat membaca makalah saya sebelumya : “ Allah Tritunggal Maha Kudus dalam Pandangan Alkitab dan Manusia.”
Ajaran Maria Mater Dei ini terungkap dalam Katekismus Katolik demikian:
495   Dalam Injil-injil Maria dinamakan "Bunda Yesus" (Yoh 2:1; 19:25). Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Puteranya ia sudah dihormati sebagai "Bunda Tuhan Ku" (Luk 1:43). la, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah, [Theotokos, Yang melahirkan Allah].


I.      CONCEPTIO VIRGINALIS -VIRGINITAS ANTE PARTUM ET VIRGINITAS IN PARTU
(Keperawanan Maria sebelum ,saat melahirkan  dan selamanya)
·          Virginitas ante partum. Baik dalam Injil Markus maupun Injil Yohanes tidak ada laporan tentang 30 tahun pertama kehidupan Yesus, keduanya hanya membahas kehidupan Yesus di hadapan umumsebagai Mesias. Namun dalam pembukaan injil Markus mengacu pada Yesus Kristus putra Allah. Markus menggambarkan tidak ayah manusiawi . Jadi ibu Yesus mesti mengandung Dia secara perawan. Matius menyatakan bahwa kelahiran Kristus menggenapi nubuat Yesaya (Yesaya 7 : 14) tentang seorang perawan yang melahirkan. Kata almah dalam bahasa Ibrani dapat diterjemahkan dengan perempuan muda , gadis atau perwan. Almah tidak pernah dipakai untuk menunjukkan seorang perempuan yang sudah kawin Kaum cendekiawan Yahudi berbahasa Yunani yang menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa    
Yunani yaitu versi Septuaginta, memilih kata Yunani “parthenos “ yang selalu berarti perawan. Ajaran tentang keperawanan Maria dan kelahirannya Yesus secara ajaib dari perawan (virginitas ante partum) jelas terinci dalam : Mat 1: 18-25, dikukuhkan oleh Luk 1 : 27 dan dinyatakan oleh Maria sendiri di Luk 1 : 34 dan diakui oleh malaikat Gabriel pada Luk 1 : 35 – 37.  
Keperawanan Maria saat mengfandung bukan sekedar simbol yang mengabaikan realitas keperawanaan fisik biologis Para teolog reformasi mempertahankan ajaran ini meskipun sadar bahwa segi fisik biologik bukan dimensi terdalamakjaran itu. Perlu diingat simbol tidak pernah menjadi realitas rasional saja. Apa yang menjadi simbol selalu suatu realitas fisik nyatayang menyimbolkan suatu realitas transenden. Kalau keperawanan dikatakan suatu ciri transenden Yesus dan realitas fisik simbol itu dihilangkan maka ciri transenden itupun kehilangan realitasnya dan menjadi mitologi belaka. Seluruh iman Kristiani dihampakan menjadi mitologi.
Justru ajaran keperawanan Maria saat melahirkan (Virginitas in Paretu ) dan keperawanan Maria yang lestari sering banyak diperdebatkan.
·          Virginitas in partu. Sejak abad II muncul kepercayaan bahwa Yesus juga dilahirkan oleh Maria sebagai perawan. Secara konkrit itu berarti bahwa Yesus tidak hanya dikandung secara luar biasa tetapi juga dilahirkan secara luar biasa. Dalam karangan apokrif( Pra Injil Yakobus, Pengangkatan Yesaya ke surga , Odae Salomonis) pandangan itu juga tampil. Dalam karangan itu halnya dipahami bahwa secara fisik artinya selaput dara Maria tidak rusak oleh kelahiran Yesus. Ajaran virginitas in partu ini kemudian menjadi sangat umum tanpa penjelasan bahwa ada dimensi fisik –jasmani . Hanya dikatakan : Maria tidak melahirkan Yesus dengan cara sama dengan ibu-ibu lain. Keperawanan Maria in partu dalam melahirkan Yesus berarti sikap hati yang dengannya Maria mengandung Yesus tidak pernah dibatalkan meskipun tidak selalu gampang yang terlaksana misalnya saat bersalin. Maria sebulat-bulatnya merelakan diri untuk melahirkan Yesus , tanpa resistensi apa saja.
Masalah keperawanan
·          Keperawanan Maria lestari. Sejak abad keempat, hampir semua tokoh agama ternama(termasuk tiga reformator Protestantterbesar : Luther, Calvin dan Zwingli) menyetujui pernyataan pernyataan Konsili Konstantinopel kedua (353) mengenai keperawanan lestari Maria. Namun kemudia ada keberatan yang didasarkan pada Mat 12:46, Mrk 3 :31, Luk 8:19 tentang saudara-saudari Yesus baik laki-laki maupun perempuan. Ii berarti Maria dan Yusuf memilki anak selain Yesus, berati juga Maria sudah tidak perawan lagi setelah melahirkan Yesus
Perlu dipoerhatikan kata kata Yunani untuk saudara-saudari  juga dipakai menunjuk kerabat-kerabat dekat.  Saudara saudara Yesus diyakini adalah keabatnya.  Hal ini punya dasar sebagai berikut :.
    1. Dalam Yoh7:5  disebutkan “Siapa saja saudara-saudara” Yesus yang tidak percaya pada-Nya
    2. Sanak saudara yang dimaksud adalah Yakobus dan Yosep Simon dan Yoses) sebagaimana tercantum dalam kutipan Matius 13 :55dan Markus 6 :3.
    3. Jarang sekali seorang anak Yahudi memiliki nama yang sama dengan ayahnya. Jadi jelas yang dimaksud Yosep di situ bukan anak Maria.
    4. Rahim yang mengandung Allah yang menjelma menjado manusia sepantasnya dikhususkan hanya untuk Dia, dan tidak boleh dipakai untuk mengandung  makhluk lain termasuk yang disebut saudara-saudari yesus. Eksklusifitas ini yang nenjadi ciri-ciri khas rahim Mariasebagai tempat kediaman Putra Ilahi.

Ajaran tentang keperawanan Maria ini  tercantum dalam dokumen Geraja dalam Katekismus Katolik sebagai berikut :
Perawan Maria
496   Sudah dalam rumusan-rumusan iman yang pertama, Gereja mengakui bahwa Yesus hanya oleh kuasa Roh Kudus dikandung dalam rahim Perawan Maria. Juga segi jasmani dari kejadian ini turut dinyatakan. Ia mengandung Yesus "tanpa benih, dari Roh Kudus" (Sin. Lateran 649: DS 503). Para bapa Gereja melihat dalam perkandungan oleh perawan ini, suatu tanda bahwa sungguh Putera Allah datang ke dalam kodrat manusiawi yang sama dengan kita.
Demikianlah santo Ignasius dari Antiokia [awal abad ke 2] berkata: "Kamu yakin dengan sepenuhnya tentang Tuhan kita, yang dengan sesungguhnya berasal dari keturunan Daud menurut daging, Putera Allah menurut kehendak dan kekuasaan Allah b, sesungguhnya dilahirkan dari seorang perawan ..., sesungguhnya menderita dalam pemerintahan Pontius Pilatus ... dipaku untuk kita dalam daging ... dan ia menderita sesungguhnya, sebagaimana ia juga sungguh membangkitkan Diri" (Smyrn. 1 2).
497   Berita-berita dalam Injil menanggapi perkandungan yang perawan itu sebagai karya Allah, yang melampaui segala pengertian dan kemampuan manusiawi2. Malaikat berkata kepada Yosef tentang Maria isterinya: "Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus" (Mat 1:20). Gereja melihat di dalamnya pemenuhan janji, yang Allah berikan melalui nabi Yesaya: "Lihatlah, seorang perawan akan mengandung seorang anak, dan akan melahirkan seorang putera" (Yes 7:14).
498   Kadang-kadang orang merasa bingung, karena Injil Markus dan surat-surat Perjanjian Baru tidak mengatakan sesuatu pun mengenai perkandungan Maria yang tetap perawan. Orang pun bertanya tanya, apakah di sini kita tidak berhadapan dengan legenda atau gagasan teologis, yang tidak ada maksud historis. Untuk itu perlu dijawab: Pada awal sejarah Kristen iman akan perkandungan yang perawan menimbulkan pertentangan ejekan, dan kurangnya pengertian pada orang yang bukan kristen, baik Yahudi mau pun kafir; jadi ia tidak dimotivasi oleh mitologi kafir atau oleh satu penyesuaian kepada ide zaman itu. Arti dari kejadian ini hanya dapat ditangkap oleh iman, yang melihatnya "atas dasar hubungan rahasia-rahasia iris sendiri antara satu sama lain" (DS 3016) dalam seluruh misteri Kristus, mulai dari penjelmaan-Nya menjadi manusia sampai dengan Paska. Sudah oleh santo Ignasius dari Antiokia diberikan kesaksian mengenai hubungan ini: "Bagi sang penguasa dunia ini keperawanan Maria dan persalinannya disembunyikan, demikian pula kematian Tuhan   tiga misteri yang berteriak dengan nyaring, yang terjadi dalam kesunyian Allah" (Eph 19,1).

Maria --  "Tetap Perawan
499   Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan, juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia. Oleh kelahiran-Nya "Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya" (LG 57). Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai "yang selalu perawan" [Aeiparthenos].
500   Kadang-kadang orang mengajukan keberatan bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang. saudara dan saudari Yesus. Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Yakobus dan Yosef yang disebut sebagai "saudara-saudara Yesus" (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria" yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan "Maria yang lain" (Mat 28:1). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama, mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat.
501   Yesus adalah putera Maria yang tunggal. Tetapi keibuan Maria yang rohani mencakup semua manusia, untuknya Yesus telah datang untuk menyelamatkannya: "la telah melahirkan putera, yang oleh Allah dijadikan `yang sulung di antara banyak saudara (Rm 8:29), yakni umat beriman. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik mereka" (LG 63). 
Bunda Perawan Maria dalam Rencana Allah
502   Dalam hubungan dengan keseluruhan wahyu, pandangan iman dapat 9o menemukan alasan-alasan yang penuh rahasia, mengapa Allah menghendaki dalam rencana keselamatan-Nya, bahwa Putera-Nya dilahirkan oleh seorang perawan. Alasan-alasan ini menyangkut baik pribadi dan perutusan Kristus sebagai Penebus, maupun penerimaan perutusan ini oleh Maria untuk semua manusia.
503   Keperawanan Maria menunjukkan bahwa Allah mempunyai prakarsa absolut dalam penjelmaan menjadi manusia. Yesus hanya mempunyai Allah sebagai Bapa. Ia "tidak pernah asing bagi Bapa-Nya, karena manusia yang sudah ia terima ... [la adalah Putera] kodrati Bapa menurut keallahan, [Putera] kodrati Bunda menurut kemanusiaan, tetapi ia adalah [Putera] Bapa yang sebenarnya dalam kedua duanya" (Syn. Friaul 696: DS 619).
504   Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh Roh Kudus, karena ia adalah Adam baru, yang membuka ciptaan baru: "Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari surga" (1 Kor 15:47). Kodrat manusiawi Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus sejak perkandungan-Nya karena Allah "mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas" (Yoh 3:34). "Karena dari kepenuhan-Nya"   Kepala umat manusia yang tertebus  "kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia" (Yoh 1:16).
505   Oleh perkandungan yang perawan, Yesus, Adam baru, memulai kelahiran baru, yang dalam Roh Kudus membuat manusia menjadi anak-anak Allah melalui iman. "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?" (Luk 1:34). Keikutsertaan dalam kehidupan ilahi datang "bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yoh 1:13). Kehidupan ini diterima secara perawan, karena ia diberikan kepada manusia semata mata oleh Roh. Sifat keperawanan dari panggilan manusia kepada Allah terlaksana secara sempurna dalam keibuan Maria yang perawan.
506   Maria adalah perawan, karena keperawanannya adalah tanda imannya, "yang tidak tercemar oleh keraguan sedikit pun" (LG 63), dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi. Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: "Maria lebih berbahagia dalam menerima iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus" (Agustinus, virg. 3).
507   Maria adalah perawan sekaligus bunda, karena ia adalah citra hakikat Gereja dan Gereja dalam arti penuh: Gereja, "oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula   menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal abadi putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh mumi menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya" (LG 64).
TEKS-TEKS SINGKAT
508   Dari antara turunan Hawa, Allah memilih perawan Maria menjadi bunda Anak-Nya. "Penuh rahmat" ia adalah "buah penebusan termulia" (SC 103). Sejak saat pertama perkandungannya ia dibebaskan seluruhnya dari noda dosa asal dan sepanjang hidupnya ia bebas dari setiap dosa pribadi.
509   Maria sesungguhnya "Bunda Allah", karena ia adalah Bunda Putera Allah abadi yang menjadi manusia, yang sendiri adalah Allah.
510   Maria "tetap perawan, ketika ia mengandung Puteranya, perawan ketika ia melahirkan Nva, perawan ketika ia menyusui-Nya. Selalu perawan " (Agustinus, serm. 186,1). Dengan seluruh hakikatnya ia adalah "hamba Tuhan" (Luk 1:38).
511   Perawan Maria "dengan iman dan ketaatan yang bebas, telah bekerja sama untuk keselamatan manusia " (LG 56). Sebagai "wakil seluruh kodrat manusia" (Tomas Aqu. s.th. 3,30,1) ia mengucapkan perkataan "Ya ". Oleh ketaatannya ia menjadi Hawa baru, menjadi Bunda orang-orang hidup.
Demikianlah seluruh rumusan tentang keperawanan Maria yang tidak sekedar simbol namun juga disertai realitas fisik. Tidak hanya menyangkut wujud spiritual namun juga jasmani. 

J.   PENUTUP
Demikian uraian populer tentang Maria yang kadang masih kurang bisa kita pahami dengan baik. Bunda Maria yang menjadi bunda pengantara segala rahmat bisa membawa kita untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus.  Namun kita juga jangan sampai terjebak pada bentuk devosional yang berlebihan sehingga menyingkirkan peranan Yesus sebagai juru selamat. Untuk melengkapi makalah singkat saya ini saya lampirkan sebuah perdebatan seputar Maria.     Akhir kata  saya mohon maaf bila ada banyak kesalahan dalam tulisan saya. Kritik dan saran membangun sangat saya harapkan Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Alkitab
2.      Teologi Sistematika 1 , Dr. Nico Syukur Diester, OFM, Kanisius
3.      Teologi Sistematika 2 , Dr. Nico Syukur Diester, OFM, Kanisius
4.      Mariologi, Teologi dan Devosi, Dr C .Groenen OFM, Kanisius
5.      Mempertanggungjawabkan Iman Katolik, Dr.H . Pidyarto O. Carm, Dioma
6.      Maria Dalam Kitab Suci, John H Hampsch, CMF, OBOR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar